segenggam garam dari Nestor, membangunkan.
Malam sudah jatuh pada tanggal kesekian. Entah mengapa aku merasa tidak merasa penting untuk tahu tanggal apa hari ini. Perlombaan waktu yang biasa orang hadapi. Seakan hilang semangat dan arah hidup. Waktu menjadi tidak penting, udara pekat oleh rasa sepi yang menyesakan dada, dan setiap hal yang bermakna dalam hidup menjadi pudar. Perlahan hilang. Aku bertanya dalam hati, apa aku sudah terlalu jauh dari Tuhan?.
Tuhan? Kenapa manusia butuh tuhan? Apa ini pertanyaan dari seseorang yang sesat? Atau sebuah pertanyaan dari seorang yang lemah dan butuh sandaran tempat bergantung dalam hidup?. Aku sadar, manusia membutuhkan tuhan untuk tetap hidup dan berkembang kearah yang lebih baik. kita butuh sesuatu kekuatan yang maha besar, tak berbentuk dan tak bercela – untuk tetap menjaga dan memotivasi manusia untuk terus berusaha untuk melakukan hal-hal baik menurutnya dan menurut-Nya.
……..
“Dalam kesendirian yang benar-benar sunyi. Saat dimana kau merasa tidak ada yang dapat mengerti dirimu dan tidak ada yang mampu membebaskan dirimu dalam kesepiaan yang menyiksa. Semua pikiran dan cita-cita idealmu seperti sesuatu yang diharamkan realita dan kenyataan ingin apa yang ingin kenyataan inginkan: keburukan. Keraguan adalah keyakinan baru, kau meragu atas segala hal tak terkecuali hal-hal yang yang mungkin kau anggap suci dan sakral. Lalu kau mulai bertanya tentang segala sesuatu dan meragu atas segala sesuatu. Keraguan yang menggelisahkan. Tidak ada kedamaian yang mungkin dapat kau temukan. Kegelisahan adalah sesuatu hal yang pasti. Dan mimpi-mimpi buruk yang datang ketika malam adalah gambaran dari kegelisahan mu disiang hari. Hari-hari kelam. Mata terpejam tapi hati tidak dapat tidur dalam damai. Lalu kau merindu kedamaian seperti para pesakitan merindu kematian.
kita mungkin terlalu jauh melangkah, ketika kita masih sangat belia. Mempertanyakan segala sesuatu dan menggugatnya di depan altar kebenaran yang tak pasti. Lalu kita mengikat janji dalam hati, bersumpah untuk tetap setia pada kebenaran yang mungkin tak benar-benar ada itu. kini janji itu menagih dalam bisunya, menggugat kembali dirimu yang sedang dalam badai kegelisahan. Kau tak berdaya, dari luar dan dalam belati diacungkan padamu. Kau ingin berontak, tetapi untuk apa? bagaimana? Dan yang paling penting kepada siapa kau ingin berontak? Kau bingung atas keadaan jiwa dan pikiran mu. bingung. Lalu kau mulai menyalahkan masa muda, tetapi kau sadar belum terlalu tua untuk menyebut masa penuh gairah dan harapan itu sebagai ‘masa muda’. Kau begitu dekat dengan masa lalu dan menjatuhkan hukuman pada ‘masa lalu’. Hukuman yang bebanya dapat kau rasakan sampai sekarang. beban yang membungkukan badan dan menekuk busung dada mu. kau kehilangan kepercayaan diri. merasa terasing dan terkucil di dunia yang sempit ini. Lalu mengasihani dirimu disudut kamar sunyi, diantara buku-buku yang dahulu kau banggakan. Buku-buku yang mengajarkan kepadamu tentang sejarah dan kehormatan: tentang perlawanan.
kau lupa, bagaimana caranya berdiri dan bangkit, karena kau terlalu tinggi terbang mengkhayal tentang berbagai kemenangan yang akan kau raih. Seperti dalam buku-buku sejarah perang besar, kisah-kisah kemenangan selalu ditulis dengan lengkap dan mendominasi isi buku. Tidak dengan yang kalah, menjadi kisah kecil pelengkap narasi sebuah kemenangan besar. Dan kau pun menjadi takut bukan kepalang, takut menjadi narasi kecil pelengkap kemenangan besar milik orang lain dalam sejarah. Kau takut.
Kawan, siapa gerangan yang mampu membunuh orang yang menolak untuk mati? hanya waktu. Selagi waktu belum dapat dikendalikan oleh kekuasaan manapun di dunia ini, maka waktu adalah netral. Jangan khawatir. Waktu mu masih panjang, terlalu dini untuk meletakan pedang dan menunggu pedang waktu mencincang dengan jurus andalan: penyesalan. Bangkitlah, wahai petarung sepi. Ambil pedangmu kembali dan sayatlah sedikit telapak tanganmu. Biar darah mengucur dan rasa sakit menjulur sampai kesaraf kepalamu. Fokus pada rasa sakit dan warna merah darah. Kau masih hidup, dan hidup adalah pertarungan. Pertarungan belumlah selesai dan kau belum kalah. Sebagaimana yang kau sering katakana kepada mereka yang coba kau yakinkan ( aku tahu kau juga menyakinkan dirimu sendiri ketika kau mengatakan itu). dahulu, kau pernah mengatakan: “menang atau kalah tidaklah penting, tetapi tangan kita terkepal untuk melawan itu adalah tindakan yang bermartabat”.
aku tidak ingin kau kembali mengukir janji pada siapapun dan dirimu sendiri, aku ingin kau kembali bertarung untuk dirimu sendiri; demi martabat dan akal sehatmu. Sebaik-baiknya pertarunganmu. Bertarunglah tanpa rasa takut, karena rasa takut adalah senjata rahasia dari musuh-musuhmu yang licik. Jangan biarkan mereka mengalahkanmu sebelum pertarungan terjadi. Asah pedangmu tajam-tajam. Kau butuh pedang tajam untuk mencincang ketakutan dan keraguanmu dengan cepat. Maka berdoalah pada tuhan, berdoa dengan tulus. Untuk-Nya kau memilih, untuk-Nya kau bertarung dan hanya kepada-Nya kau mengharapkan kemenangan Lahir dan Batin. Tuhan bersamamu, Untuk kemenangan dan kemuliaan. God willing!”.

